Lantaran Coret Baliho Salah Satu Caleg, Syamsudin Diduga Diculik dan Disiksa.

 Syamsudin kini hanya terbaring dikasurnya.

Sangihe – Syamsudin Makaluas (16) warga Kampung Bahu, Kecamatan Tabukan utara saat ini hanya terbaring pasrah di kasurnya dengan kondisi kaki kirinya yang terbungkus dengan kain. Anak lelaki yang masih dibawah umur ini diduga menjadi korban kekerasan dari sejumlah oknum pelaku yang tidak berprikemanusiaan. Kini Syamsudin tak bisa beraktivitas seperti anak normal lainnya, disebabkan kakinya yang patah.

Kejadian ini terjadi sudah beberapa pekan yang lalu, berawal dari pelaku PM pada Jumat (15/3/2019) menjemput serta membawa Syamsudin ke sebuah tempat dimana dirinya dituduh mencoret baliho dari Caleg. Ketika ditanya, Korban memang mengaku dirinya hanya menulis coretan kecil di baliho. Namun, sesampainya di lokasi tempat dimana baliho caleg itu berdiri, dia dibawa lagi oleh oknum Polisi yang berinisial AKM, yang diketahui bertugas di salah satu Polsek di Kabupaten Sangihe.

Korban mengungkapkan, dirinya dibawah oleh oknum Polisi kerumahnya yang berada di Kampung Naha. Nah, setelah sampai dirumah dia ditanya, dan disuruh push up berkali-kali bahkan sesekali Syamsuid dihadiahi tamparan. “Saya beberapa kali disuruh push up dan sempat terjatuh karena kelelahan. Kemudian saya ditanya lagi kalau ada yang menyuruh untuk mencoret baliho. Saya bilang tidak. Sesudah itu ditampar lagi, lalu dilanjutkan push up,” ungkap Korban dikediaman keluarganya, Senin (25/3/2019).

Dia menjelaskan, pada posisi push up dia melihat ada seseorang yang berbadan besar dan bertato, datang dan langsung menendang kakinya hingga dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh sampai tak berdaya. “Kaki saya bengkak, karena ditendang saat sedang melakukan push up. Yang menendang pria bertato berbadan besar datang dengan mobil,” jelasnya.

Tak hanya itu, Syamsudin kemudian dibawa masuk ke dalam garasi mobil dan disuruh jongkok. Kemudian ada lagi orang yang datang menamparnya. Menurut keterangan keluarga, ketika mendengar kabar tersebut mereka langsung mendatangi rumah pelaku, untuk meminta korban dibawa pulang. Namun demikian oknum caleg, Julista Lisade (ibu terduga pelaku) melarangnya karena harus menunggu anaknya pulang dari kantor dulu.

“Iya kami sudah datang ke rumahnya pada Jumat sore itu untuk membawa pulang Syamsudin, namun demikian Ibu Julista Lisade tidak memberikan izin, katanya mau tunggu anaknya pulang dari kantor dulu,” ungkap Ibu Ana yang adalah kerabat korban.

Menurutnya korban nanti dikembalikan ke rumah pada Sabtu sore. Ibu Ana juga menegaskan bahwa ketika korban dijemput oleh oknum-oknum tersebut, sama sekali tidak ada pemberitahuan kepada pihak keluarga. “Pada Jumat itu, korban dijemput tanpa pemberitahuan kepada keluarganya, dan nanti dikembalikan pada hari Sabtu sekitar setengah empat sore dalam keadaan, kaki bengkak dan bagian wajahnya bengkak,” Jelas Ibu Ana.

Keluarga menuturkan Syamsudin kini telah beberapa kali menjalani sedot darah mati di bagian lutut dan hingga hari ini masih trauma dalam keadaan terkapar di tempat tidur. Sebelumnya, Senin (18/3/2019), dia sempat dirawat di Puskesmas Enemawira Tabukan Utara, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Liun Kendage Tahuna.

Meski sudah beberapa minggu berlalu, proses perkara penganiayaan terhadap Syamsudin Makaluas anak yatim piatu ini, masih bergulir di Polres Sangihe pada tahap pemeriksaan saksi-saksi.

Kanit II Polres Sangihe, Juknais Katiandagho telah menerima laporan dari pihak keluarga korban dan saat ini sedang dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi. Menurutnya, aparat penegak hukum tak akan pandang bulu dalam menyelesaikan kasus ini. “Benar sudah masuk masuk laporan dan udah masuk tahap pemeriksaan saksi-saksi dan sementara diproses. Pada intinya semua dari korban dan sekarang kami jemput bola. Bahkan kami langsung mencari saksi-saksi di rumahnya dan saat ini kami menunggu korban selesai pemeriksaan di rumah sakit,” ujar Katiandagho. (Andika)

author

Author: