
Tahuna,Suarasulutnews.co.id-Penyandraan 10 WNI awak KM Brahma 12 oleh kelompok teroris Philipina Abu Sayaf mengundang keprihatinan berbagai komponen di Kabupaten Kepulauan Sangihe, termasuk pemkab setempat.
Ini dikarenakan salah satu dari kru kapal yang ditawan, Kapten Peter Tonsen Barahama (25) merupakan warga Kepulauan Sangihe. Bahkan sebagai bagian dari keprihatinan serta topangan untuk pembebasan sandra, Pemkab Sangihe, Kamis (31/03) kemarin menggelar doa bersama di Pendopo Rumah Jabatan Bupati.
Doa bersama langsung dipimpin Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST), Pdt. W.B. Salindeho STh, dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Sangihe, Dr. Wisje Makagansa-Rompis MSi serta sejumlah pejabat dan kalangan GMIST.
”Doa bersama ini merupakan prakarsa pemkab setempat untuk menopang keluarga Kapten Peter Barahama dan kru KM Brahma 12 yang ditawan,”ungkap Drs. Gabriel Mandiangan ditemui saat mengantar undangan doa bersama di kantor Bupati kemarin.
Sementara Kakak kandung Kapten KM Brahma 12, Samsaret Barahama ditemui terpisah, mengungkapkan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian Pemkab Sangihe yang langsung merespon peristiwa penyandraan yang menimpa adik kandungnya tersebut.
Namun ia langsung merautkan wajah sedih ketika disentil soal keberadaan adiknya yang berada ditangan Abu Sayaff. Samsaret mengakui pihak keluarga, termasuk ibu dan ayah kandungnya yang saat ini berada di Manado, hingga kini masih belum mengetahui keberadaan maupun kondisi terakhir
Peter selama dalam penawanan, dan hanya berharap topangan doa serta dukungan moril masyarakat agar sang adik dan kru KM Brahma 12 bisa dibebaskan.
”Memang ada secercah harapan ketika ada lampu hijau dari pihak perusahaan yang akan memenuhi tuntutan Abu Sayaf, namun kami sangat mengharapkan dukungan doa masyarakat dan semua pihak agar adik kami beserta kru kapal lainnya bisa dibebaskan,”ungkap Samsaret.(fb)