Era Persaingan, Presiden Jokowi Minta Perguruan Tinggi Tidak Hidup Dalam Lamunan Sendiri

Yogyakarta,Suarasulutnews.co.id-Dalam salah satu bagian sambutannya pada pembukaan Konferensi Nasional Forum Rektor Indonesia, di Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta, Jumat (29/1) malam, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa kita memerlukan kecepatan. Dalam segala hal kecepatan, kecepatan memutuskan kecepatan merespon cepat sekali. Karena dunia ini berubah bukan hari lagi, tiap detik tiap menit tiap jam berubah-ubah enggak-enggak jelas mau kemana.
Presiden menunjuk contoh, dulu di awal- awal kita takut dengan krisis Yunani. Kita takut semuanya, waduh nanti berimbas ke Indonesia , kita harus jaga ini kita harus jaga ini. Itu belum dijaga, lanjut Presiden, muncul lagi depresiasi Yuan.
Begitu kita antisipasi, belum rampung, muncul lagi kenaikan suku bunga the Fed. Ini kita baru menurunkan BI rate kita, muncul lagi harga minyak yang anjlok di bawah 30 dollar AS per barel.
“Ini bukan hal yang main-main. Hal hal seperti itu dari krisis Yunani, depresiasi Yuan, kenaikan bunga the Fed, penurunan harga minyak yang begitu sangat cepat, ini kalau mentalitas kita, bangunan karakter kita masih senang subsidi, masih senang kita dimanjakan oleh hal-hal yang mengenakkan kita, yang menyamankan kita berbahaya sekali dalam era kompetisi. Berbahaya sekali dalam era persaingan,” tutur Presiden Jokowi.
Oleh sebab itu, Presiden mengajak kepada Forum Rektor Indonesia supaya Perguruan Tinggi tidak hidup dalam lamunan sendiri. “Artinya apa, bekerja untuk lingkungannya sendiri. Artinya kalau kita melakukan sebuah riset, ya riset itu harus bisa diimplementasikan di lapangan. Bisa menuju lagi kepemanfaatan ke masyarakat, mestinya seperti itu. Bukan untuk diri kita sendiri, bukan untuk di lingkungan di kampus sendiri,” tegas Presiden Jokowi.
Presiden menegaskan, kita memang adu cepat dengan negara lain. Era persaingan era kompetisi. Presiden meminta riset- riset yang memperkuat inovasi, yang memperkuat daya saing bangsa terus harus dilakukan. Selain itu, perguruan tinggi juga perlu menguatkan manajemen yang responsif, dan mampu untuk mencari pendanaan kreatif.
“Bisa saja kita temukan dengan Kementerian BUMN yang berkaitan dengan misalnya dengan biofuel, biodiesel, sudah mungkin dengan Pertamina. Yang berkaitan dengan obat, dengan kesehatan mungkin dengan BUMN kita agar bisa cepat semuanya, dengan Kimia Farma dan lainnya,” tuturnya.
Presiden meyakini, ada banyak cara yang bisa dilakukan asal memang hasil riset itu konkrit, nyata, bermanfaat bagi negara. Ia berharapk perguruan tinggi bermitra dengan pemerintah, bermitra dengan BUMN, bermitra dengan dunia usaha.
“Itulah yang kita harapkan ke depan dan juga hal-hal yang berkaitan dengan daerah tertinggal, daerah terpencil, daerah terdepan, daerah perbatasan, desa desa ini memerlukan dukungan dari perguruan tinggi dalam baik dalam memperbaiki manajemen mereka, baik dalam melakukan

pendampingan sehingga betul- betul kita bekerja dan bergerak bersama-sama dan menghasilkan daya saing, produktivitas, etos kerja, semuanya bisa berubah,” tegas Kepala Negara.
Dalam konferensi ini dilaksanakan Konvensi Kampus XII dan Temu Tahunan XVII tanggal 29-31 Januari 2016.
Tampak mendampingi Presiden Jokowi dalam kesempatan itu antara lain Menristek Dikti M. Nasir, Mensesneg Pratikno, Mendagri Tjahjo Kumolo, dan Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X. (FID/DNK/ES/setkab.go.id)

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.